Efek Samping Obat

Efek samping adalah setiap efek yang tidak dikehendaki dan merugikan atau membahayakan pasien (adverse reaction ) dari suatu pengobatan. Efek samping yang berat jarang ditemukan, meskipun efek-efek toksik yang berbahaya sering terjadi pada penggunaan beberapa golongan obat. Reaksi yang membahayakan jiwa mungkin ditemukan sebanyak kurang dari 2% dari pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit (Katzung,1998).

Efek samping obat merupakan penyebab umum terjadinya morbiditi di rumah sakit dan di masyarakat. Efek samping memberikan biaya yang signifikan baik dari segi keuangan maupun dari kualitas hidup pasien. Beberapa penelitian tentang efek samping obat telah dilakukan di masyarakat sehingga diketahui bahwa efek samping dari pengobatan utama sulit untuk ditangani, tetapi penelitian di rumah sakit menunjukkan:

1.      Efek samping obat terjadi pada 10-20% pasien di rumah sakit.

2.      Efek samping obat bertanggungjawab (5%) terhadap masuknya pasien ke rumah sakit.

3.      Efek samping obat bertanggungjawab terhadap kematian 1 dari 1000 pasien di rumah sakit.

4.      Efek samping merupakan penyebab yang paling umum dari iatrogenic pada pasien di rumah sakit (Whiffen P,2007).

WHO mendefenisikan efek samping obat sebagai obat yang berhubungan dengan kejadian yang berbahaya dan tidak diharapkan dan terjadi pada dosis yang digunakan pada manusia untuk pencegahan, diagnosis dan terapi penyakit atau untuk memodifikasi fungsi fisiologi. Defenisi ini tidak meliputi hal-hal berikut ini, yaitu over dosis, kegagalan terapi, interaksi obat, dan pemutusan obat. Semua ini bisa menyebabkan efek samping obat. Farmasi memiliki peranan penting dalam mengidentifikasi, melaporkan dan mencegah terjadinya efek samping obat (Whiffen P, 2007).

Mekanisme reaksi efek samping obat dibagi menjadi dua kategori utama yaitu reaksi intrinsic (reaksi yang bisa diprediksi) dan reaksi idiosyncratic (reaksi yang tidak bisa diprediksi) (Jenning,2003). Berikut ini beberapa pengelompokan efek samping obat yang lain:

Tipe A: Reaksi-reaksi ini dapat diprediksi dalam hal farmakologi primer dan sekunder obat dan biasanya tergantung kepada dosis. Contoh jenis reaksi ini termasuk hipoglikemia dengan hipoglikemi oral dan hipotensi dengan anti-hipertensi. Reaksi ini harus diantisipasi, dan sering bisa dieliminasi dengan mengurangi dosis.

Tipe B: Reaksi tidak bisa diprediksi  dari pengetahuan farmakologi dasar obat dan tidak menunjukkan adanya hubungan dengan dosis yaitu kurangnya hubungan antara dosis dan toksisitas. Reaksi ini hanya terjadi pada sebagian kecil populasi, tapi sering serius dan bisa menyebabkan kematian.

Tipe C: Reaksi yang terkait dengan penggunaan obat jangka lama, contohnya adalah ketergantungan Benzodiazepine dan analgesik nefropati.  Reaksi-reaksi dapat  dijelaskan dengan baik dan dapat diantisipasi.
Tipe D: Efek Tertunda seperti karsinogen dan teratogen. Diperkirakan bahwa toksisitas tersebut dihalangi oleh penelitian mutagenisitas praklinis. Penelitian karsinogen untuk senyawa kimia baru perlu dilakukan secara menyeluruh sebelum lisensi produk diberikan (Pirmohamed,2001).

Untuk menentukan suatu gejala adalah efek samping obat dapat menjadi sulit terutama untuk pasien yang memiliki gejala patologi yang lebih dari satu. Pengalaman menunjukkan bahwa farmasis cendrung menyalahkan obat dan dokter cendrung menyalahkan penyakit. Berikut adalah daftar pertanyaan yang ditanyakan untuk menentukan efek samping obat:

1.      Apakah ada penjelasan lain berdasarkan gejala (contohnya penyakit yang berhubungan).

2.      Apakah gejala ini sebelumnya pernah dilaporkan merupakan efek samping obat ini? Seberapa umum gejala ini? Ini lebih susah ditangani terutama untuk obat-obat baru karena kurangnya informasi yang tersedia.

3.      Apakah waktunya tepat? Kebanyakan efek samping obat terjadi setelah dimulainya pengobatan, walaupun beberapa efek samping (contohnya hepatotoksik) mungkin tertunda. Mulai terjadinya reaksi hipersensitiv (contohnya ruam karena penisilin) dapat tertunda sampai 10 hari setelah dimulainya pengobatan. Ini bisa menyebabkan kebingungan,  terutama jika antibiotik telah selesai digunakan sebelum ruam muncul.

4.      Apakah dosis berlebih? Lakukan pengukuran level serum jika tersedia. Cek fungsi ginjal, apakah dosis terlalu tinggi jika fungsi ginjal terganggu. Jika gejala bisa dijelaskan sebagai reaksi tipe A dan dosis yang digunakan  besar, itu kemungkinan adalah reaksi yang diinduksi obat.

5.      Apakah gejala berkurang pada saat obat dihentikan atau dosis dikurangi ? Reaksi tipe A biasanya tergantung kepada dosis dan bertambah buruk jika dosis dinaikkan dan berkurang jika dosis obat dikurangi atau obat dihentikan. Reaksi tipe B biasanya tidak tergantung dosis dan akan jarang terjadi hilangnya efek samping dengan berkurangnya dosis. Penarikan obat penting tetapi jika gejala disebabkan oleh reaksi imun, gejala masih terlihat beberapa hari atau beberapa minggu.

6.      Apakah gejala terjadi pada penggunaan berulang obat (re-challenge) ? Perlu diingat bahwa re-chalenge terutama disebabkan oleh hazard untuk tipe reaksi tipe B dan biasanya tidak dipertimbangkan.

Jika jawaban untuk pertanyaan pertama adalah “tidak” dan jawaban untuk pertanyaan lain umumnya adalah “iya” gejala kemungkinan besar adalah efek samping obat (Whiffen P, 2007).

 

1.      Umur

2.      Gagal ginjal

3.      Gangguan hati

4.      kelemahan

5.      Jenis kelamin

6.      Polifarmasi

7.      Sejarah efek samping obat sebelumnya

8.      Genetik

Empat faktor predisposisi yang pertama adalah untuk tipe reaksi A karena mereka menentukan terjadinya toksik oleh obat. Tetapi faktor lainnya merupakan faktor predisposisi untuk reaksi tipe A dan B (Whiffen P, 2007).

Pelaporan Efek Samping Obat

Kebanyakan efek samping obat tidak dilaporkan dan ini bisa menyebabkan penundaan dalam mengidentifikasi reaksi yang penting. Alasan untuk gagalnya melaporkan efek samping obat dikenal dengan “seven deadly sins”. Farmasis harus berusaha untuk mengatasi ini dan mendorong pelaporan efek samping selama  pengobatan, perawatan dan mengirimkan laporan mereka (Whiffen,2007).

 

Pada banyak negara mereka memiliki peraturan tertentu dalam pelaporan efek samping obat. Di Inggris, dokter, dokter gigi, farmasis, perawat dan pasien dapat melaporkan efek samping obat kepada Commission on Human Medicines (CHM) melalui kartu kuning.  Untuk obat-obat baru diberi tanda segitiga hitam dalam BNF (British national formulary) dan CHM meminta semua efek samping untuk obat ini dilaporkan (Whiffen P, 2007).

Gagalnya pelaporan efek samping obat disebabkan oleh hal berikut, yang dikenal dengan “ seven deadly sins

1.      Kepuasan dengan diri sendiri. Kepercayaan yang salah bahwa hanya obat yang aman yang diizinkan beredar di pasar dan ini tidak akan menyebabkan efek samping yang serius.

2.      Ketakutan dalam keterlibatan mengajukan perkara atau kurang percaya dirinya pasien.

3.      Perasaan bersalah bahwa pasien telah dibahayakan dengan resep yang diberikan.

4.      Ambisi. Untuk mengumpulkan dan mempublikasikan kasus seri pribadi.

5.      Mengabaikan apa yang seharusnya dilaporkan dan bagaimana melaporkannya.

6.      Ketidakberanian. Enggan untuk melaporkan efek untuk yang hanya merupakan kecurigaan yang berhubungan dengan obat.

7.      Malas. Ini termasuk kurangnya waktu atau ketertarikan, kemampuan untuk menemukan kartu laporan dan sebagainya (Whiffen P, 2007).

This entry was posted in all about farmasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s