Schizophrenia

Schizophrenia merupakan sindrom heterogen kronis yang ditandai dengan pola pikir yang tidak teratur, delusi, halusinasi, perubahan perilaku yang tidak tepat serta adanya gangguan fungsi psikososial (Dipiro,2005). Schizophrenia merupakan gangguan jiwa yang dalam kebanyakan kasus bersifat sangat serius, berkelanjutan dan dapat mengakibatkan kendala sosial, emosional, dan kognitif, (pengenalan, pengetahuan, daya membedakan; Lat.cognitus=dikenali). Akan tetapi ada pula banyak varian lain yang kurang serius. Schizophrenia adalah penyebab terpenting gangguan psikosis, dimana periode psikosis diiringi episode normal, saat pasien bisa berfungsi baik. Mulainya penyakit ini sering kali menyelinap, adakalanya juga dengan mendadak. Pada pria biasanya timbul antara usia 15-25 tahun, jarang di atas 30 tahun, sedangkan pada wanita antara 25-35 tahun (Tjay T.H,2002).

 

Epidemiologi

Berdasarkan data dari ECA (Epidemiologic Catchment Area Study), kejadian schizophrenia di U.S prevalensinya sekitar 0.6% sampai 1.9%, dengan rata-rata 1%. Prevalensinya sama pada setiap daerah, hanya ada sedikit pengecualian. Schizophrenia umumnya  dimulai pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa dan jarang terjadi sebelum masa remaja atau sebelum umur 40 tahun (Dipiro, 2008). ECA yang disponsori oleh NIMH (National Institute of Mental Health) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1.3 %. Kira-kira 0.025-0.05% populasi total diobati selama satu tahun (Kaplan,1997).

Prevalensi schizophrenia antara laki-laki dan wanita sama. Tapi menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset penyakit lebih awal dari wanita. Puncak onset untuk laki-laki adalah 15-25 tahun, dan untuk wanita 25-35 tahun. Onset schizophrenia sebelum usia 10 tahun dan setelah usia 50 tahun jarang terjadi. Kira-kira 90% pasien yang mengalami pengobatan adalah antara usia 15-55 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-laki lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu oleh gejala negatif dan bahwa wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya hasil akhir untuk pasien schizophrenia wanita lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien schizophrenia laki-laki (Kaplan,1997).

Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara pasien schizophrenia. Kira-kira 50% dari semua pasien schizophrenia mencoba bunuh diri sekurangnya satu kali selama hidupnya dan 10-15% pasien schizophrenia meninggal karena bunuh diri selama periode follow up 20 tahun. Pasien schizophrenia laki-laki dan wanita sama-sama mungkin untuk melakukan bunuh diri. Faktor resiko utama untuk bunuh diri diantara orang schizoprenia adalah adanya gejala depresi, usia yang muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi (Kaplan,1997).

 

Etiologi

Walaupun etiologi penyakit jiwa tidak dikenal, riset menunjukkan berbagai kelainan di dalam struktur otak dan fungsinya. Bagaimanapun, perubahan ini tidaklah konsisten antar semua individu dengan suatu hasil diagnosa schizophrenia, dan masih banyak yang harus dipelajari tentang patogenesis. Penyebab penyakit jiwa mungkin multifaktorial; karena kelainan patofisiologi dapat berperan dalam menyebabkan schizophrenia (Dipiro,2008).

Banyak teori yang berkembang tentang etiologi schizophrenia antara lain:

1. Model Diatesis Stress

Suatu model untuk integrasi faktor biologis dan faktor psikososial dan lingkungan adalah model diatesis stres. Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stres, memungkinkan perkembangan gejala schizophrenia. Pada model diatesis stres yang paling umum diatesis atau stres dapat terjadi karena biologis atau lingkungan atau keduanya. Komponen lingkungan dapat biologis (sebagai contohnya, infeksi) atau psikologis (sebagai contohnya situasi keluarga yang penuh ketegangan atau kematian teman dekat). Dasar bologis untuk suatu diatesis dibentuk lebih lanjut oleh pengaruh epigenik, seperti penyalahgunaan zat, stres psikologis, dan trauma (Kaplan,1997).

 

2. Faktor Biologis

Penyebab schizophrenia tidak diketahui, tetapi dalam dekade yang lalu semakin banyak penelitian telah melibatkan peranan patofisiologi untuk daerah tertentu di otak, termasuk sistem limbik, kortek frontalis, dan ganglia bangsalis. Ketiga daerah tersebut saling berhubungan sehingga disfungsi pada salah satu daerah tersebut mungkin melibatkan patologi primer di daerah lainnya. Dua jenis penelitian telah melibatkan sistem limbik sebagai suatu tempat potensial untuk patologi primer pada sekurangnya satu bagian. Dasar untuk timbulnya abnormalitas  mungkin terletak pada perkembangan abnormal  (sebagai contohnya migrasi abnormal neuron di sepanjang sel glia radial selama perkembangannya) atau dalam degenerasi neuron dalam setelah perkembangan (sebagai contohnya, kematian sel terprogram yang awal secara abnormal, seperti yang tampak terjadi pada penyakit hutington) (Kaplan,1997).

 

 

3. Keturunan

Bukti yang kuat menduga bahwa schizophrenia disebabkan oleh genetik. Keturunan pertama yang menderita schizophrenia, menyebabkan perkembangan 10%, jika kedua orang tua menderita schizophrenia, prevalensi anaknya menderita meningkat menjadi 40%. Kembar monozigot prevalensinya sekitar 50%. Banyak gen yang berasosiasi dalam perkembangan schizophrenia, tapi belum jelas asosiasinya. Data terbaru menunjukan bahwa terjadi encode pada reseptor dopamin, reseptor serotonin, dan enzim yang memetabolisme dopamin, catechol-O-methyltransferase (COMT). Pengaruh dan bahaya lingkungan juga memberikan kontribusi dalam schizophrenia. Beberapa data mengusulkan bahwa paparan virus dan bakteri pada intrauterin mungkin merupakan faktor resiko (Dipiro,2008).

4. Peningkatan dopamin

Teori lama yang berasosiasi dengan patofisiologi schizophrenia mengusulkan bahwa schizophrenia disebabkan karena peningkatan dopamin yang berlebihan di otak. Hipotesis ini dibuat pada tahun 1950an yang diikuti dengan penemuan chlorpromazin, obat antipsikotik yang pertama, yang bekerja sebagai antagonis dopamin postsinap. Ada bukti yang menjelaskan bahwa obat yang meningkatkan  kadar dopamin (contohnya, cocain dan amfetamin) meningkatkan gejala psikotik. Sementara itu obat yang menurunkan dopamin juga menurunkan gejala psikotik. Beberapa peneliti mengusulkan bahwa disfungsi kombinasi dari dopamin dan sistem glutamat transmiter  lebih menjelaskan tentang kelainan (Dipiro,2008).

 

Diagnosis

Untuk mendapatkan diagnosa yang memadai dan mengobati penderita schizophrenia, dibutuhkan pemahaman tentang bermacam-macam fase pada kelainan.

Adapun fasenya sebagai berikut

1. Prodrome,

Awal terjadinya perkembangan gejala psikotik yang jelas, kebanyakan individu akan mengalami periode memburuknya fungsi, termasuk menjauh dari kehidupan sosial, kesenangan yang aneh, tingkah laku yang tidak biasa, masalah akademik, memburuknya kemampuan dalam menjaga diri. Ketika gejala ini mulai terjadi, maka harus diberikan perhatian lebih. Gejala psikotik harus ada sebelum diagnosis schizophrenia ditegakkan.

2. Acute phase

Pada fase ini sering terjadi gejala yang didominasi oleh gejala positif  (halusinasi, delusi, gangguan berfikir formal, tingkah psikotik yang aneh dan memburuknya fungsi).

 

 

3. Recovery phase

Fase ini mengkuti fase akut, dimulai dengan adanya psikosis aktif. Pada fase ini terjadi gejala psikosis dan dapat juga terjadi kebingungan, disorganisasi atau disphoria (gelisah).

4.Residual fase

Selama fase ini, gejala psikosis minimal. Pasien akan selalu mengalami masalah gejala negatif, contohnya penarikan diri dari sosial, lesu, tidak ada motivasi, dan atau flat affect.

5.Chronic impairment

Beberapa pasien mengalami gangguan kronik dengan gejala yang menetap yang tidak memiliki respon yang memadai. (Anonim,2000)

 

Untuk diagnosa schizophrenia acuan yang paling banyak digunakan adalah DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, ed 4). DSM IV mempunyai kriteria diagnosis dari APA (Amerika Psychiatric Association) untuk schizophrenia. Kriteria DSM IV sebagian besar tidak berubah dari DSM III yang direvisi (DSM-III-R), walaupun DSM-IV menawarkan lebih banyak pilihan bagi klinisi dan lebih deskriptif terhadap situasi klinis yang aktual. Seperti pada DSM-III-R, halusinasi maupun waham tidak diperlukan untuk diagosis schizophrenia karena pasien dapat memenuhi diagnosis jika mereka memenuhi dua gejala yang dituliskan dalam gejala nomor tiga sampai lima di dalam kriteria A. Kriteria B menghilangkan kata “pemburukan deteriortation” di dalam variabel perjalanan schizophrenia di antara pasien-pasien. Namun demikian kriteria B masih memerlukan gangguan fungsi selama fase aktif penyakit. DSM-IV masih memerlukan gejala minimal 6 bulan dan tidak adanya diagnosis gangguan schizoefktif atau gangguan mood (Kaplan,1997).

 

Kriteria diagnosis schizophrenia berdasarkan DSM IV:

A.    Gejala karakteristik: dua (atau lebih berikut), masing-masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil):

1)      Waham

2)      Halusinasi

3)      Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoheren)

4)      Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas

5)      Gejala negatif yaitu pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan (avolition)

Catatan: hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengomentari perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya.

B.     Disfungsi sosial atau pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri adalah jelas dibawah tingkat yang dipakai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik atau pekerjaan yang diharapkan).

C.     Durasi. Tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala prodormal atau residual. Selama periode prodomal atau residual, tanda gejala mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang diperlemah (misalnya keyakinan yang aneh, pengalamam persepsi yang tidak lazim).

D.    Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood: gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena:

(1)   Tidak ada episode depresi berat, manik, atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif, atau

(2)   Jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relatif singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.

E.     Penyingkiran zat/kondisi medis umum: gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif. Jika terdapat adanya riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan schizophrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang jika berhasil diobati).

This entry was posted in all about farmasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s